Khadijah

KHADIJAH

Tak Tahan Air Mata, Banyak Yang Menangis Membaca Kisah Khadijah (Istri Rasulullah) ini

Khadijah Memang Wanita Istimewa

DUA PERTIGA (2/3) wilayah Makkah adalah milik Siti Khadijah, istri pertama Rasulullah SAW. Ia wanita bangsawan yang menyandang kemuliaan dan kelimpahan harta kekayaan. Namun ketika wafat, tak selembar kafan pun dia miliki. Bahkan baju yang dikenakannya di saat menjelang ajal adalah pakaian kumuh dengan 83 tambalan.

“Fatimah putriku, aku yakin ajalku segera tiba,” bisik Khadijah kepada Fatimah sesaat menjelang ajal. “Yang kutakutkan adalah siksa kubur. Tolong mintakan kepada ayahmu, agar beliau memberikan sorbannya yang biasa digunakan menerima wahyu untuk dijadikan kain kafanku. Aku malu dan takut memintanya sendiri”.

Mendengar itu Rasulullah berkata, “Wahai Khadijah, Allah menitipkan salam kepadamu, dan telah dipersiapkan tempatmu di surga”.

Siti Khadijah, Ummul Mu’minin (ibu kaum mukmin), pun kemudian menghembuskan nafas terakhirnya dipangkuan Rasulullah. Didekapnya sang istri itu dengan perasaan pilu yang teramat sangat. Tumpahlah air mata mulia Rasulullah dan semua orang yang ada di situ.

Dalam suasana seperti itu, Malaikat Jibril turun dari langit dengan mengucap salam dan membawa lima kain kafan.

Rasulullah menjawab salam Jibril, kemudian bertanya, “Untuk siapa sajakah kain kafan itu, ya Jibril?”

“Kafan ini untuk Khadijah, untuk engkau ya Rasulullah, untuk Fatimah, Ali dan Hasan,” jawab Jibril yang tiba-tiba berhenti berkata, kemudian menangis.

Rasulullah bertanya, “Kenapa, ya Jibril?”
“Cucumu yang satu, Husain, tidak memiliki kafan. Dia akan dibantai, tergeletak tanpa kafan dan tak dimandikan,” jawab Jibril.

Rasulullah berkata di dekat jasad Khadijah, “Wahai Khadijah istriku sayang, demi Allah, aku tak kan pernah mendapatkan istri sepertimu. Pengabdianmu kepada Islam dan diriku sungguh luar biasa. Allah Mahamengetahui semua amalanmu. Semua hartamu kau hibahkan untuk Islam. Kaum muslimin pun ikut menikmatinya. Semua pakaian kaum muslimin dan pakaianku ini juga darimu. Namun begitu, mengapa permohonan terakhirmu kepadaku hanyalah selembar sorban!?”

Tersedu Rasulullah mengenang istrinya semasa hidup.

Khadijah

Dikisahkan, suatu hari, ketika Rasulullah pulang dari berdakwah, beliau masuk ke dalam rumah. Khadijah menyambut, dan hendak berdiri di depan pintu, kemudian Rasulullah bersabda, “Wahai Khadijah, tetaplah kamu di tempatmu”.

Ketika itu Khadijah sedang menyusui Fatimah yang masih bayi. Saat itu seluruh kekayaan mereka telah habis. Seringkali makanan pun tak punya, sehingga ketika Fatimah menyusu, bukan air susu yang keluar akan tetapi darah. Darahlah yang masuk dalam mulut Fatimah r.a.

Kemudian Rasulullah mengambil Fatimah dari gendongan istrinya, dan diletakkan di tempat tidur. Rasulullah yang lelah sepulang berdakwah dan menghadapi segala caci-maki serta fitnah manusia itu lalu berbaring di pangkuan Khadijah hingga tertidur.

Ketika itulah Khadijah membelai kepala Rasulullah dengan penuh kelembutan dan rasa sayang. Tak terasa air mata Khadijah menetes di pipi Rasulullah hingga membuat beliau terjaga.

“Wahai Khadijah, mengapa engkau menangis? Adakah engkau menyesal bersuamikan aku?” tanya Rasulullah dengan lembut.
Dahulu engkau wanita bangsawan, engkau mulia, engkau hartawan. Namun hari ini engkau telah dihina orang. Semua orang telah menjauhi dirimu. Seluruh kekayaanmu habis. Adakah engkau menyesal, wahai Khadijah, bersuamikan aku, Muhammad?” lanjut Rasulullah tak kuasa melihat istrinya menangis.

“Wahai suamiku, wahai Nabi Allah. Bukan itu yang kutangiskan,” jawab Khadijah.
“Dahulu aku memiliki kemuliaan. Kemuliaan itu telah aku serahkan untuk Allah dan RasulNya. Dahulu aku adalah bangsawan. Kebangsawanan itu juga aku serahkan untuk Allah dan RasulNya. Dahulu aku memiliki harta kekayaan. Seluruh kekayaan itupun telah aku serahkan untuk Allah dan RasulNya”.

“Wahai Rasulullah, sekarang aku tak punya apa-apa lagi. Tetapi engkau masih terus memperjuangkan agama ini. Wahai Rasulullah, sekiranya nanti aku mati sedangkan perjuanganmu belum selesai, sekiranya engkau hendak menyeberangi sebuah lautan, sekiranya engkau hendak menyeberangi sungai namun engkau tidak memperoleh rakit atau pun jembatan, maka galilah lubang kuburku, ambillah tulang-belulangku, jadikanlah sebagai jembatan bagimu untuk menyeberangi sungai itu supaya engkau bisa berjumpa dengan manusia dan melanjutkan dakwahmu”.

“Ingatkan mereka tentang kebesaran Allah. Ingatkan mereka kepada yang hak. Ajak mereka kepada Islam, wahai Rasulullah”.

Di samping jasad Siti Khadijah, Rasulullah kemudian berdoa kepada Allah. “Ya Allah, ya Ilahi Rabbiy, limpahkanlah rahmat-Mu kepada Khadijahku, yang selalu membantuku dalam menegakkan Islam.
Mempercayaiku pada saat orang lain menentangku. Menyenangkanku pada saat orang lain menyusahkanku. Menenteramkanku pada saat orang lain membuatku gelisah”.

Rasulullah pun tampak sedih. “Oh Khadijahku sayang, kau meninggalkanku sendirian dalam perjuanganku. Siapa lagi yang akan membantuku?”
“Aku, ya Rasulullah!” sahut Ali bin Abi Thalib.
jawab ,menantu Rasullulah..,

Ustadz Abdul Somad, Lc, MA.

Barakallahu fiikum,

Advertisements

Perintah

“PERINTAH KEPADA ORANG MUKMIN UNTUK MENJADI PENEGAK KEADILAN DALAM PERSAKSIAN”

Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Segala puji bagi Allah, Dzat yang telah mengutus Muhammad SAW menjadi rahmat bagi seluruh alam. Shalawat dan salaam semoga tercurah kepada Rasulullah SAW berserta keluarga, shahabat dan pengikutnya sampai akhir zaman. Amma ba’du.

Bapak dan Ibu, malam ini akan disampaikan taushiyah seperti judul diatas, sesuai firman Allah pada surat An-Nisa, ayat 135 :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ بِالْقِسْطِ شُهَداءَ لِلَّهِ وَلَوْ عَلى أَنْفُسِكُمْ أَوِ الْوالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ إِنْ يَكُنْ غَنِيًّا أَوْ فَقِيراً فَاللَّهُ أَوْلى بِهِما فَلا تَتَّبِعُوا الْهَوى أَنْ تَعْدِلُوا وَإِنْ تَلْوُوا أَوْ تُعْرِضُوا فَإِنَّ اللَّهَ كانَ بِما تَعْمَلُونَ خَبِيراً

“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kalian orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah, biarpun terhadap diri kalian sendiri atau ibu bapak dan kaum kerabat kalian. Jika kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kalian mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kalian memutarbalikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala apa yang kalian kerjakan.”

Bapak dan Ibu, Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kepada hamba-hamba-Nya yang mukmin agar menegakkan keadilan, dan janganlah mereka bergeming dari keadilan itu barang sedikit pun, jangan pula mereka mundur dari menegakkan keadilan karena mengharap ridha Allah, hanya karena celaan orang-orang yang mencela, jangan pula mereka dipengaruhi oleh sesuatu yang membuatnya berpaling dari keadilan. Hendaklah mereka saling membantu, bergotong royong, saling mendukung dan tolong-menolong demi keadilan.

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala yang mengatakan:

{شُهَدَاءَ لِلَّهِ}

menjadi saksi karena Allah. (An-Nisa: 135)

Ayat ini semakna dengan firman-Nya:

وَأَقِيمُوا الشَّهادَةَ لِلَّهِ

dan hendaklah kalian tegakkan kesaksian itu karena Allah. (At-Thalaq: 2)

Maksudnya, tunaikanlah kesaksian itu karena mengharap ridha Allah. Maka bila kesaksian itu ditegakkan karena Allah, barulah kesaksian itu dikatakan benar, adil, dan hak; serta bersih dari penyimpangan, perubahan, dan kepalsuan. Karena itulah dalam firman selanjutnya disebutkan:

{وَلَوْ عَلَى أَنْفُسِكُمْ}

biarpun terhadap diri kalian sendiri. (An-Nisa: 135)

Dengan kata lain, tegakkanlah persaksian itu secara benar, sekalipun bahayanya/kerugiannya menimpa diri sendiri. Apabila kamu ditanya mengenai suatu perkara, katakanlah yang sebenarnya, sekalipun mudaratnya kembali kepada dirimu sendiri. Karena sesungguhnya Allah akan menjadikan jalan keluar dari setiap perkara yang sempit bagi orang yang taat kepada-Nya.

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

أَوِ الْوالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ

atau ibu bapak dan kaum kerabat kalian. (An-Nisa: 135)

Yakni sekalipun kesaksian itu ditujukan terhadap kedua orang tuamu dan kerabatmu, janganlah kamu takut kepada mereka dalam mengemukakannya. Tetapi kemukakanlah kesaksian secara sebenarnya, sekalipun bahayanya/kerugiannya kembali kepada mereka, karena sesungguhnya perkara yang hak itu harus ditegakkan atas setiap orang, tanpa pandang bulu.

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

{إِنْ يَكُنْ غَنِيًّا أَوْ فَقِيرًا فَاللَّهُ أَوْلَى بِهِمَا}

Jika ia kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. (An-Nisa: 135)

Artinya, janganlah kamu hiraukan dia karena kayanya, jangan pula kasihan kepadanya karena miskinnya. Allah yang mengurusi keduanya, bahkan Dia lebih utama kepada keduanya daripada kamu sendiri, dan Dia lebih mengetahui hal yang bermaslahat bagi keduanya.

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

{فَلا تَتَّبِعُوا الْهَوَى أَنْ تَعْدِلُوا}

Maka janganlah kalian mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. (An-Nisa: 135)

Maksudnya, jangan sekali-kali hawa nafsu dan fanatisme serta risiko dibenci orang lain membuat kalian meninggalkan keadilan dalam semua perkara dan urusan kalian. Bahkan tetaplah kalian pada keadilan dalam keadaan bagaimanapun juga, seperti yang dinyatakan oleh firman-Nya:

وَلا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلى أَلَّا تَعْدِلُوا اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوى

Dan janganlah sekali-kali kebencian kalian terhadap sesuatu kaum, mendorong kalian untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. (Al-Maidah: 8)

Termasuk ke dalam pengertian ini ialah perkataan Abdullah ibnu Rawwahah ketika diutus oleh Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam melakukan penaksiran terhadap buah-buahan dan hasil panen milik orang-orang Yahudi Khaibar. Ketika itu mereka bermaksud menyuapnya dengan tujuan agar bersikap lunak terhadap mereka, tetapi Abdullah ibnu Rawwahah berkata, “Demi Allah, sesungguhnya aku datang kepada kalian dari makhluk yang paling aku cintai, dan sesungguhnya kalian ini lebih aku benci daripada kera dan babi yang sederajat dengan kalian. Bukan karena cintaku kepadanya, benciku terhadap kalian, lalu aku tidak berlaku adil terhadap kalian.” Mereka mengatakan, “Dengan demikian, berarti langit dan bumi akan tetap tegak.”

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَإِنْ تَلْوُوا أَوْ تُعْرِضُوا

Dan jika kalian memutarbalikkan (kata-kata/fakta) atau enggan menjadi saksi. (An-Nisa: 135)

Menurut Mujahid dan lain-lainnya yang bukan hanya seorang dari kalangan ulama Salaf, makna “talwu” ialah memalsukan dan mengubah kesaksian. Makna lafaz “al-lai” sendiri ialah mengubah dan sengaja berdusta. Seperti pengertian yang ada di dalam ayat lain, yaitu firman-Nya:

وَإِنَّ مِنْهُمْ لَفَرِيقاً يَلْوُونَ أَلْسِنَتَهُمْ بِالْكِتابِ

Sesungguhnya di antara mereka ada segolongan yang memutar-mutar lidahnya membaca Al-Kitab. (Ali Imran: 78), hingga akhir ayat.

Al-i’rad artinya menyembunyikan kesaksian dan enggan mengemukakannya. Dalam ayat yang lain disebutkan melalui firman-Nya:

وَمَنْ يَكْتُمْها فَإِنَّهُ آثِمٌ قَلْبُهُ

Dan barang siapa yang menyembunyikannya, maka sesungguhnya ia adalah orang yang berdosa hatinya. (Al-Baqarah: 283)

Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam telah bersabda:

“خَيْرُ الشُّهَدَاءِ الَّذِي يَأْتِي بِشَهَادَتِهِ قَبْلَ أَنْ يُسألها”

Sebaik-baik saksi ialah orang yang mengemukakan kesaksiannya sebelum diminta untuk bersaksi.

Karena itulah Allah mengancam mereka dalam firman selanjutnya, yaitu:

{فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا}

maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala apa yang kalian kerjakan. (An-Nisa: 135)

Dengan kata lain, Allah kelak akan membalas perbuatan kalian itu terhadap diri kalian (azab di dunia dan akhirat).

Bapak dan Ibu, kita cukupkan sampai disini taushiyah malam ini, insya Allah kita lanjutkan lagi pada malam berikutnya. Salam tahajud.
Wassalamu’alaikum wr.wb.

Larangan.

POLITIK DALAM ISLAM mengikut al Quran

Ada sapa2 yg berani nak tolak tu silakanlah… 😁😁😁

Allah melarang keras umat Islam makan BABI tapi TAHUKAH anda hanya terdapat 5 ayat alQuran yang menyebut BABI🤔

al-Baqarah : 173, al-Maidah : 3, al-Maidah : 60, al-An’am : 145 & al-Nahl :115. Dari yg 5 itu, Allah melarang makan babi ada 4 ayat sahaja.

Sekarang, tahukah anda, bahawa Allah melarang kita memilih orang kafir sbg pemimpin ada lebih kurang 20 ayat?

Maknanya LARANGAN MEMILIH ORANG KAFIR SBG PEMIMPIN ITU AMATLAH KERAS berbanding larangan keras memakan daging BABI sehingga Allah mengaitkan perbuatan itu sbg KAFIR MUNAFIK.

Buktinya ayat ke-136 surah an-Nisa’, bahawa orang yang memilih orang KAFIR sebagai AULIA dengan meninggalkan orang MUKMIN adalah KAFIR MUNAFIK.

الَّذِيْنَ يَتَّخِذُوْنَ الْـكٰفِرِيْنَ اَوْلِيَآءَ مِنْ دُوْنِ الْمُؤْمِنِيْنَ ۗ اَيَبْتَغُوْنَ عِنْدَهُمُ الْعِزَّةَ فَاِنَّ الْعِزَّةَ لِلّٰهِ جَمِيْعًا
“(Iaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi aulia dengan meninggalkan orang-orang yang beriman. Tidaklah patut mereka (orang-orang munafik) mencari kekuatan dan kemuliaan di sisi orang-orang kafir itu,…..”
(An-Nisa’ 4 : 139)

Adakah kita TIDAK TAKUT menjadi MUNAFIK? 🤔🤔🤔

Persoalan sekarang ialah, kenapa kita takut DOSA tersalah makan BABI, tetapi kita TIDAK TAKUT DOSA tersalah memilih pemimpin? Kenapa kita tidak takut mati dalam keadaan MUNAFIK? 🤔🤔🤔
😭😭😭

Cuba kita fikirkan bersama, TERLEBIH MUNAFIKNYA orang Islam yang menjadikan orang KAFIR sebagai PEMIMPIN dengan meninggalkan pemimpin yang MUKMIN.

Ali Imraan : 28,
Ali Imraan : 118,
Ali Imraan: 149–150.
An-Nisaa’ : 144,
Al-Maa-idah : 51.
Al-Maa-idah : 57,
Al-Maa-idah : 80–81.
At-Taubah : 16,
At-Taubah : 23,
Al-Mujaadilah : 14–15,
Al-Mujaadilah : 22,
Al-Qasshash : 86,
An-Nisaa’ : 138–139.
An-Nisaa’ : 141.
Al-Mumtahanah : 1.
Al-Mumtahanah : 5.
Al-Mumtahanah : 13,

👇🏿👇🏿👇🏿👇🏿👇🏿👇🏿

  1. Al-Qur’an
    M E L A R A N G
    Menjadikan orang Kafir Sebagai PEMIMPIN
    Ali Imraan: 28,
    An-Nisaa’: 144,
    Al-Maa-idah: 57.
  2. Al-Qur’an
    M E L A R A N G
    Menjadikan orang Kafir Sebagai PEMIMPIN Walau KERABAT Sendiri.
    At-Taubah: 23,
    Al-Mujaadilah: 22,
  3. Al-Qur’an
    M E L A R A N G
    Menjadikan orang Kafir Sebagai AULIA / TEMAN SETIA.
    Ali Imraan: 118,
    At-Taubah: 16.
  4. Al-Qur’an
    M E L A R A N G
    SALING TOLONG dengan kafir yang akan MERUGIKAN umat islam.
    Al-Qasshash: 86,
    Al-Mumtahanah: 13.
  5. Al-Qur’an
    M E L A R A N G
    MENTAATI orang kafir untuk MENGUASAI Muslim
    Ali Imraan: 149–150.
  6. Al-Qur’an
    M E L A R A N G
    Memberi PELUANG kepada orang kafir sehingga MENGUASAI Muslim.
    An-Nisaa’: 141.
  7. Al-Qur’an
    M E L A R A N G
    Kepada muslim yang menjadikan kafir sebagai pemimpin.
    An-Nisaa’: 138–139.
  8. Al-Qur’an
    M E L A R A N G
    Kepada muslim yang menjadikan kafir sebagai pemimpin.
    Al-Maa-idah: 51.
  9. Al-Qur’an
    M E L A R A N G
    Kepada muslim yang menjadikan kafir sebagai pemimpin.
    Al-Maa-idah: 80–81.
  10. Al-Qur’an
    M E L A R A N G kepada muslim yg menjadikan kafir sebagai pemimpin.
    Al-Mumtahanah: 1.
  11. Al-Qur’an
    MENGANCAM AZAB
    Bagi yang menjadikan Kafir cebagai Pemimpin / Teman setia.
    Al-Mujaadilah: 14–15.
  12. Al-Qur’an
    MENGAJARKAN DOA
    Agar Muslim buat Tidak boleh Menjadi SASARAN FITNAH kaum Kafir
    Al-Mumtahanah: 5.

Wallohua’lam

Terlebih baik jika dikongsikan dengan teman2

Semoga Allah terima peringatan ini sbg kebaikan dan bekalan kita dipadang mahsyar.

Amin.. Ya Allah….

Akidah.

Renungan Malam
💫🌏✨
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh.

AKIDAH SEORANG MUSLIM

✍ Dalam bahasa Arab akidah berasal dari kata al-‘aqdu (الْعَقْدُ) yang berarti ikatan, at-tautsiiqu (التَّوْثِيْقُ) yang berarti kepercayaan atau keyakinan yang kuat, al-ihkaamu (اْلإِحْكَامُ) yang artinya mengokohkan (menetapkan), dan ar-rabthu biquw-wah (الرَّبْطُ بِقُوَّةٍ) yang berarti mengikat dengan kuat.

✍ Sedangkan menurut istilah (terminologi), akidah adalah iman yang teguh dan pasti, yang tidak ada keraguan sedikit pun bagi orang yang meyakininya.

✍Jadi, akidah Islamiyyah adalah keimanan yang teguh dan bersifat pasti kepada Allah dengan segala pelaksanaan kewajiban, bertauhid dan taat kepadaNya, beriman kepada para malaikatNya, rasul-rasulNya, kitab-kitabNya, hari Akhir, takdir baik dan buruk dan mengimani seluruh apa-apa yang telah shahih tentang prinsip-prinsip Agama (Ushuluddin).

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

إِنَّ اللهَ لاَيَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَادُونَ ذَلِكَ لِمَن يَشَآءُ

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.
(QS. An-Nisa: 48,116)

✍ Keterikatan dan hubungan seorang muslim dengan akidahnya sangat erat, kuat dan tepat. Hal itu terlihat jelas di setiap tindakan dan urusannya; di kala suka dan duka, di saat susah dan mudah, di dalam ibadah dan muamalah. Bahkan, seluruh hidup dan matinya untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan tiada menyekutukan-Nya.

✍ Jika memita sesuatu, ia memintanya kepada Allah. Jika shalat, haji, bernadzar, dan menyembelih hewan, ia melakukannya karena Allah. Jika meminta bantuan atau pertolongan, ia memintanya kepada Allah semata. Tidak ada yang diandalkannya untuk memenuhi hajatnya, melepaskan kesulitannya, mendatangkan keuntungannya dan menolak kerugiannya selain Allah Subhanahu wa Ta’ala.

✍ Itulah akidah seorang muslim; percaya dengan hati, mengucapkan dengan lisan, dan mengamalkan dengan anggota badan. Jadi, bukan sekadar ilmu kalam yang terpisah dari kehidupan sehari-hari. Bukan pula gelombang emosi dan pembenaran perasaan belaka. Melainkan kekuatan ruhani, keilmuan, pengamalan, praktik nyata, dan interaksi dinamis yang membuat seorang muslim itu tidak pernah khawatir dan takut menghadapi masa depan.

[ Mulia Mulyadi ]

Pesan

Pesanan seorg ustaz.. Sebarkan… Kalau ada orang muslim menyokong orang kafir kerana kononnya orang kafir boleh membangun, maka sampaikanlah pada dia bahawa firaun boleh membangun mesir menjadi negara maju, penduduknya hidup makmur tetapi fir’aun mendustakan Allah, maka Allah hancurkan kaumnya

Kalau ada orang Muslim menyokong orang kafir kerana kononnya orang kafir boleh membuat negara kita menjadi moden, maka sampaikanlah pada dia bahawa namrud boleh membangun Messopotamia menjadi negara yang moden, bangunan menjulang ke atas dengan teknologi canggih ketika itu. Hanya namrud mendustakan Allah, maka Allah hancurkan kaumnya.

Kalau ada orang Muslim menyokong orang kafir kerana kononnya orang kafir boleh menjadikan hidup makmur, maka sampaikanlah pada dia bahwa Bangsa saba’ boleh membangun negerinya menjadi negara yang makmur, bebas rasuah tetapi kaum saba’ mendustakan Agama Allah, maka Allah hancurkan mereka..

Percayalah orang yang selalu bersama Allah tidak akan pernah kehilangan apapun, tetapi orang yang kehilangan Allah maka ia akan kehilangan segalanya.

Saya tidak benci dengan orang non muslim atau membiarkan muslim yg korup, tetapi Allah dengan firmanNya melarang saya untuk memilihnya sebagai pemimpin dan teman setia dan mengetepikan ukhuwwah sesama muslim apalagi jika mereka berani mencampuri urusan agama kami.

Saya tidak ingin berdebat dengan Anda yang mendukung mereka, apalagi jika Anda yang orang islam.

Bagaimana saya boleh meyakinkan Anda, sedangkan Firman Allah pun Anda abaikan.

Tanyalah orang-orang soleh.
Mengapa mereka tidak mahu berhibur?
Nescaya mereka akan menjawab.
Bagaimana kami mahu berhibur sedangkan,
Mati itu di belakang kami.
Kubur itu di hadapan kami.
Kiamat itu janjian kami.
Neraka itu memburu kami.
Dan perhentian kami ialah Allah.

‎افلا تعقلون
tidakkah kamu berfikir…?

WASIAT IMAM ASY SYAFI’I

Imam asy Syafi’i rahimahullah, pernah berwasiat:

“Nanti di akhir zaman akan banyak Ulama’ yang membingungkan umat, sehingga umat bingung untuk membedakan dan memilih yg mana Ulama’ Warosatul Anbiya’ (pewaris nabi) dan yg mana ulama’ suu’ (jahat) yang menyesatkan umat.”

Maka Imam Syafi’i rahimahullah pun melanjutkan:

“Carilah Ulama’ yang paling dibenci oleh orang-orang kafir dan orang munafiq, dan jadikanlah ia sebagai Ulama’ yang membimbingmu, dan jauhilah ulama’ yang dekat dengan orang kafir dan munafiq kerana ia akan menyesatkanmu, menjauhimu dari keredhaan Allah.”